Rabu, 18 Juli 2018

RISET SDM



PENGARUH KEPEMIMPINAN, BUDAYA KERJA DAN
DISIPLIN KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN
PADA PT RAMAYANA LESTARI SENTOSA, TBK.
CABANG DINOYO MALANG

PROPOSAL PENELITIAN




 





OLEH:

SUKIRMAN
16101061









SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI ASIA MALANG
PROGRAM STUDI MANAJEMEN
2018



BAB I
PENDAHULUAN
1.1         Latar Belakang
Perkembangan usaha ritel yang saat ini berjalan begitu pesat mengakibatkan persaingan dalam usaha ritel menjadi semakin ketat. Usaha ritel adalah segala aktivitas yang melibatkan penjualan atau pembelian barang atau jasa secara sedikit demi sedikit langsung kepada konsumen akhir. Perkembangannya saat ini, usaha ritel beralih dari usaha ritel tradisional menjadi usaha ritel yang modern, salah satunya dengan menerapkan sistem swalayan atau pelayanan mandiri.
Dalam upaya menyediakan semua kebutuhan konsumennya, perusahaan ritel harus memiliki strategi untuk memahami perilaku konsumen. Dengan memahami betul siapa konsumennya maka akan menuntun perusahaan untuk memenangkan persaingan. Pada era globalisasi ini, setiap perusahaan dituntut untuk mampu mengoptimalkan kinerja perusahaan guna menghadapi persaingan yang semakin ketat tersebut. Salah satu faktor penting yang harus diperhatikan adalah sumber daya manusia (SDM) dimana perusahaan harus dapat memperoleh, mengembangkan dan mempertahankan sumber daya manusia yang berkualitas dan profesional, karena dalam mencapai tujuan perusahaan dibutuhkan sumber daya manusia sebagai tenaga kerja untuk menjalankan kegiatan perusahaan, walaupun dengan sumber daya melimpah dan teknologi yang baik, maka suatu kegiatan tidak akan berjalan tanpa ada campur tangan manusia.
Sebagai salah satu unsur penting untuk menentukan keberhasilan perusahaan, maka perusahaan harus mampu mengelola sumber daya manusia dengan baik agar tercipta kinerja karyawan yang optimal.
Menurut Ike Kusdyah Rachmawati (2008:1), sumber daya manusia kini makin berperan besar bagi kesuksesan suatu organisasi. Banyak organisasi menyadari bahwa unsur manusia dalam suatu organisasi dapat memberikan keunggulan bersaing. Mereka membuat sasaran, strategi, inovasi, dan mencapai tujuan organisasi. Oleh karena itu, sumber daya manusia merupakan salah satu unsur yang paling vital bagi organisasi.
Kinerja karyawan adalah hasil kerja yang dicapai oleh seseorang dalam melaksanakan tugasnya. Kinerja karyawan harus sangat diperhatikan oleh perusahaan karena kinerja karyawan merupakan salah satu modal sebuah perusahaan untuk mencapai suatu tujuan serta merupakan salah satu faktor penentu dari keberhasilan perusahaan. Apabila kinerja karyawan menurun maka dapat berpengaruh buruk terhadap perusahaan, misalnya pelayanan yang tidak maksimal yang menyebabkan konsumen tidak puas, timbul kerugian, dan lain-lain. Menurut Hasibuan (2012:94) kinerja adalah suatu hasil yang dicapai oleh seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya. Dalam suatu proses atau pelaksanaan tugasnya sesuai dengan tanggung jawabnya dan seberapa banyak pengaruhnya terhadap pencapaian tujuan organisasi.
Terdapat berbagai macam faktor yang dapat mendukung terciptanya kinerja karyawan yang optimal seperti, kompensasi yang diterima karyawan, pelatihan untuk meningkatkan kemampuan karyawan, motivasi kerja yang tinggi, komunikasi yang baik, lingkungan yang baik dan nyaman, serta fasilitas yang memadahi. Selain yang disebutkan di atas, kepemimpinan adalah salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi kinerja karyawan karena kepemimpinan adalah proses mempengaruhi dan memberi contoh yang dilakukan oleh pemimpin kepada bawahannya untuk mencapai suatu tujuan yang diinginkan perusahaan. Kepemimpinan yang baik mampu menciptakan hubungan yang harmonis terhadap karyawan di perusahaan sehingga dapat mencapai tujuan bersama dengan baik dan optimal. Menurut Rivai, dkk (2014:2) kepemimpinan secara luas meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya.
Selain itu, budaya kerja juga dapat mempengaruhi kinerja karena budaya kerja merupakan gambaran dari sikap dan perilaku yang ditunjukkan oleh karyawan dalam melakukan aktivitas kerjanya sehari-hari. Apabila karyawan memiliki budaya kerja yang baik akan membawa perusahaan menuju pada kinerja yang baik serta optimal seperti yang diharapkan perusahaan. Menurut Ndraha (2012:81), budaya kerja adalah sikap terhadap pekerjaan yakni, kesukaan akan kerja untuk memperoleh kepuasan dari kesibukan pekerjaannya sendiri atau merasa terpaksa melakukan sesuatu hanya untuk kelangsungan hidup, serta perilaku pada waktu bekerja seperti rajin, berdedikasi, bertanggungjawab, berhati-hati, teliti, cermat, kemauan yang kuat untuk mempelajari tugas dan kewajibannya, suka membantu sesama karyawan atau sebaliknya.
Selanjutnya disiplin kerja, kedisiplinan juga memiliki pengaruh dalam membentuk karyawan yang profesional . Tingkat kedisiplinan ini merupakan salah satu faktor penting dan harus diperhatikan. Disiplin dapat dilihat sebagai bentuk latihan bagi karyawan untuk dapat melaksanakan aturan-aturan perusahaan dengan benar, karena karyawan yang memiliki tingkat disiplin baik, maka prestasi kerja yang dapat dicapai akan baik pula serta dapat menghasilkan kinerja karyawan yang baik dan optimal terhadap perusahaan. Apabila kedisiplinannya kurang baik, maka sulit untuk mencapai tujuan perusahaan dengan hasil optimal seperti yang diharapkan. Menurut Sutrisno (2012:85) Kehidupan dalam suatu perusahaan akan sangat membutuhkan disiplin kerja, yakni ketaatan dari anggota-anggotanya pada peraturan dan ketentuan yang berlaku pada perusahaan tersebut.
PT Ramayana Lestari Sentosa, Tbk. merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dalam bidang bisnis rantai toko swalayan yang ada di Indonesia. Salah satu cabang PT Ramayana Lestari Sentosa, Tbk. di Malang bertempat di Jalan MT. Haryono No.195-197 yang berdiri sejak tahun 2015. PT Ramayana Lestari Sentosa, Tbk. cabang dinoyo ini mengoperasikan departemen store yang menjual kebutuhan sandang seperti pakaian, tas, sepatu dengan target pasar kelas menengah ke bawah dan kelas bawah.
Berdasarkan pengamatan penulis, PT Ramayana cabang Dinoyo memiliki budaya kerja yang cukup baik, setiap karyawan diwajibkan untuk menerapkan 3S Senyum, Salam serta Sapa yang tidak hanya ditujukan pada customer namun juga berlaku pada seluruh rekan kerja untuk membuat kenyamanan di lingkungan kerja, namun terdapat satu masalah yaitu, para karyawan toko selalu bergerombol atau berkumpul pada satu counter, mereka tidak tersebar sesuai dengan counter-nya masing-masing, hal ini menyebabkan apabila ada customer yang mengunjungi salah satu counter yang sedang kosong, maka harus mencari karyawan terlebih dahulu jika ingin dilayani atau sekedar menanyakan informasi suatu barang di counter tersebut.
Penelitian ini didasari oleh beberapa penelitian terdahulu, salah satunya penelitian yang dilakukan oleh Karsono, dkk (2017) dengan judul “Pengaruh Budaya Kerja, Kepemimpinan, Disiplin Kerja dan Kompensasi Terhadap Kinerja Karyawan PT. KAI Daop 5 Purwokerto”. Populasi yang digunakan adalah seluruh karyawan PT. KAI Daop 5 Purwokerto sebanyak 623 orang dan sampel sebanyak 86 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik analisis regresi berganda. Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa secara parsial variabel budaya kerja, kepemimpinan dan kompensasi berpengaruh terhadap terhadap kinerja, sedangkan variabel disiplin kerja tidak berpengaruh terhadap kinerja yang artinya karyawan yang disiplin kerjanya tinggi dan karyawan yang disiplin kerjanya kurang memiliki kinerja yang sama tingginya. Selanjutnya, variabel budaya kerja, kepemimpinan, disiplin kerja dan kompensasi secara bersama-sama berpengaruh terhadap kinerja, artinya apabila variabel-variabel tersebut secara bersama-sama mengalami peningkatan, maka kinerja karyawan akan meningkat.
Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Kepemimpinan, Budaya Kerja, dan Disiplin Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Pada PT Ramayana Lestari Sentosa, Tbk. Cabang Dinoyo, Malang












1.2         Rumusan Masalah
Berdasarakan pada latar belakang di atas, maka permasalahan yang dirumuskan pada penelitian ini adalah :
a.         Apakah kepemimpinan berpengaruh terhadap kinerja karyawan pada PT Ramayana Lestari Sentosa, Tbk. Cabang Dinoyo, Malang ?
b.        Apakah budaya kerja berpengaruh terhadap kinerja karyawan pada PT Ramayana Lestari Sentosa, Tbk. Cabang Dinoyo, Malang ?
c.         Apakah disiplin kerja berpengaruh terhadap kinerja karyawan pada PT Ramayana Lestari Sentosa, Tbk. Cabang Dinoyo, Malang ?
d.        Apakah kepemimpinan, budaya kerja, dan disiplin kerja berpengaruh terhadap kinerja karyawan pada PT Ramayana Lestari Sentosa, Tbk. Cabang Dinoyo, Malang ?

1.3         Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah :
a.         Untuk mengetahui apakah kepemimpinan berpengaruh terhadap kinerja karyawan pada PT Ramayana Lestari Sentosa, Tbk. Cabang Dinoyo, Malang.
b.        Untuk mengetahui apakah budaya kerja berpengaruh terhadap kinerja karyawan pada PT Ramayana Lestari Sentosa, Tbk. Cabang Dinoyo, Malang.
c.         Untuk mengetahui apakah disiplin kerja berpengaruh terhadap kinerja karyawan pada PT Ramayana Lestari Sentosa, Tbk. Cabang Dinoyo, Malang.
d.        Untuk mengetahui apakah kepemimpinan, budaya kerja dan disiplin kerja berpengaruh terhadap kinerja karyawan pada PT Ramayana Lestari Sentosa, Tbk. Cabang Dinoyo, Malang.
1.4         Batasan Masalah   
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang akan diteliti, maka perlu diadakan pembatasan masalah agar pembahasannya tidak meluas dari masalah yang akan diteliti serta pemecahan masalah dapat lebih terarah. Karena terdapat berbagai macam variabel yang dapat mempengaruhi kinerja seperti, kompensasi, komunikasi, pelatihan, motivasi, lingkungan kerja dan lain sebagainya. Maka penulis membatasi ruang lingkup penelitian ini agar terfokus dan tepat pada variabel kepemimpinan (X1), budaya kerja (X2) dan disiplin kerja (X3) sebagai variabel bebas yang dalam penelitian ini dilambangkan dengan X dan kinerja karyawan (Y1) sebagai variabel terikat dengan lambang Y, serta responden pada penelitian ini dibatasi hanya karyawan bagian toko yang melakukan penjualan langsung (direct selling) pada PT Ramayana Lestari Sentosa, Tbk. Cabang Dinoyo, Malang.

1.5    Manfaat Penelitian
a.         Bagi peneliti
Untuk menambah wawasan keilmuan tentang manajemen sumber daya manusia, khususnya tentang kepemimpinan, budaya kerja, disiplin kerja dan kinerja karyawan. Selain itu, Dapat menambah pengetahuan dan wawasan dalam mengembangkan kemampuan penulis dalam mengamati permasalahan serta dalam menyusun karya ilmiah khususnya dalam bidang manajemen Sumber Daya Manusia (SDM). Serta sebagai sarana untuk mengaplikasikan ilmu yang telah dipelajari oleh penulis selama perkuliahan.

b.        Bagi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Asia Malang
Dapat digunakan sebagai tambahan referensi bagi program studi manajemen khususnya manajemen Sumber Daya Manusia (SDM) di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi – ASIA Malang, tentang pengaruh kepemimpinan, budaya kerja dan disiplin kerja terhadap kinerja karyawan. Dapat juga digunakan sebagai bahan empiris atau rujukan bagi peneliti selanjutnya dalam bidang Sumber Daya Manusia.
c.         Bagi PT Ramayana Lestari Sentosa, Tbk. Cabang Dinoyo Malang
Dengan penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang bermanfaat dan sebagai bahan pertimbangan bagi perusahaan yang bersangkutan dalam mengambil keputusan, terutama yang berhubungan dengan kegiatan peningkatan kinerja karyawan yang berkaitan dengan  kepemimpinan, budaya kerja dan disiplin kerja agar karyawan mendapatkan kepuasan dalam pekerjaannya dan dapat meningkatkan kinerja karyawan yang lebih baik.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS

2.1         Penelitian Terdahulu
Landasan penelitian terdahulu ini merupakan salah satu acuan penulis dalam melakukan penelitian sehingga penulis dapat memperkaya teori yang digunakan dalam mengkaji penelitian yang dilakukan. Dari penelitian terdahulu ini penulis tidak menemukan judul yang sama dengan judul penelitian penulis. Maka dari tinjauan pustaka penulis mengangkat beberapa penelitian sebagai referensi dalam memperkaya bahan kajian pada penelitian penulis.
Landasan penelitian terdahulu yang pertama adalah hasil dari penelitian yang dilakukan Karsono, Denok Kurniasih dan Dyah Retna Puspita (2017) dengan penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Budaya Kerja, Kepemimpinan, Disiplin Kerja dan Kompensasi Terhadap Kinerja Karyawan PT. KAI Daop 5 Purwokerto”. Populasi yang digunakan adalah seluruh karyawan PT. KAI Daop 5 Purwokerto sebanyak 623 orang. Penentuan ukuran sampel dengan rumus Slovin diperoleh sampel sebanyak 86 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik analisis regresi berganda. Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa variabel budaya kerja, kepemimpinan, disiplin kerja dan kompensasi secara bersama-sama berpengaruh terhadap kinerja. Secara parsial variabel budaya kerja, kepemimpinan dan kompensasi berpengaruh terhadap terhadap kinerja karyawan PT. KAI Daop 5 Purwokerto, sedangkan variabel disiplin kerja tidak berpengaruh terhadap kinerja karyawan yang artinya karyawan yang disiplin kerjanya tinggi dan karyawan yang disiplin kerjanya kurang memiliki kinerja yang sama tingginya.
Penelitian yang kedua yang dilakukan oleh Bangun Prajadi Cipto Utomo (2014) dengan penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Kepemimpinan, Motivasi Kerja, Disiplin Kerja dan Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan dan Dosen STMIK Duta Bangsa Surakarta”. Metode penelitian kuantitatif dengan teknik analisis regresi berganda. Populasi penelitian berjumlah 50 orang dan seluruh populasi dijadikan sampel (sensus). Hasil penelitian menunjukkan kepemimpinan, disiplin kerja dan lingkungan kerja berpengaruh  positif terhadap kinerja, sedangkan motivasi kerja mempunyai pengaruh negatif terhadap kinerja. Untuk variabel yang berpengaruh paling dominan terhadap kinerja adalah lingkungan kerja.
            Penelitian yang ketiga dilakukan oleh I Nyoman Jaka Alit Wiratama dan Desak Ketut Sintaasih (2013) dengan penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Kepemimpinan, Diklat dan Disiplin Kerja Terhadap Kinerja Karyawan PDAM Tirta Mangutama Kabupaten Badung”. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 214 orang dan sampel 91 orang, serta menggunakan teknik analisis data regresi linear berganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa kepemimpinan, pendidikan dan pelatihan, serta disiplin kerja karyawan secara simultan berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan. Secara parsial kepemimpinan bahwa kepemimpinan, pendidikan dan pelatihan, serta disiplin kerja karyawan juga berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan.
                Penelitian yang keempat dilakukan oleh Heri Susanto dan Nuraini Aisiyah (2010) dengan penelitiannya yang berjudul “Analisis Pengaruh Kepemimpinan dan Budaya Kerja dengan Motivasi sebagai Variabel Intervening Terhadap Kinerja Karyawan di Kantor Pertanahan Kabupaten Kebumen”. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif yang didukung analisis deskriptif kualitatif. Alat analisis dalam penelitian ini adalah Partial Least Square (PLS). Populasi sebanyak 85 orang yang seluruhnya dijadikan sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak mempunyai pengaruh langsung terhadap kinerja karyawan, budaya kerja mempunyai pengaruh langsung terhadap kinerja karyawan, motivasi mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kinerja karyawan, Kepemimpinan dan budaya kerja mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap motivasi. Selanjutnya, hasil penelitian menunjukkan kepemimpinan, budaya kerja dan motivasi secara bersama-sama mempunyai pengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan dan dari ketiga variabel yang paling dominan berpengaruh terhadap kinerja karyawan adalah motivasi.
            Penelitian yang kelima dilakukan oleh Makkira, Dr. Gunawan dan Dr. Abdul Razak Munir (2016) dengan penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Disiplin Kerja, Komitmen Organisasi dan Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Pda PT Trans Retail Indonesia (Carrefour) Cabang Panakkukang Makassar”. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi linear berganda dengan jumlah sampel 80 orang karyawan. Teknik pengambilan sampel menggunakan sampling jenuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa disiplin kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja. Komitmen organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja dan lingkungan kerja juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja. Disiplin kerja, komitmen organisasi dan lingkungan kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan pada PT Trans Retail Indonesia (Carrefour) Cabang Panakkukang Makassar.
Dari uraian landasan penelitian terdahulu di atas dapat disimpulkan dalam bentuk tabel penelitian seperti di bawah ini :
Tabel 2.1
Tabulasi Penelitian Terdahulu
Keterangan
Nama
(Tahun)
Judul
Penelitian
Variabel
Yang
Digunakan
Populasi
Dan
Sampel
Alat
Analisis
Hasil
Penelitian
Peneliti
Pertama
Karsono, Denok Kurniasih, Dyah Retna Puspita (2017)
Pengaruh Budaya Kerja, Kepemimpinan, Disiplin Kerja dan Kompensasi Terhadap Kinerja Karyawan PT. KAI Daop 5 Purwokerto
Budaya Kerja, Kepemimpinan, Disiplin Kerja dan Kinerja
Populasi : 623 orang
Sampel : 86 orang
Analisis Regresi Linear Berganda
Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa variabel Budaya Kerja, Kepemimpinan, Disiplin Kerja dan Kompensasi berpengaruh secara simultan. Secara parsial budaya kerja, kepemimpinan dan kompensasi berpengaruh terhadap kinerja. Sedangkan disiplin kerja tidak berpengaruh terhadap kinerja.
Peneliti
Kedua
Bangun Prajadi Cipto Utomo (2014)
Pengaruh Kepemimpinan, Motivasi Kerja, Disiplin Kerja dan Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan dan Dosen STMIK Duta Bangsa Surakarta
Kepemimpinan, Disiplin Kerja, dan Kinerja
Populasi : Seluruh Karyawan dan Dosen STMIK Duta Bangsa Surakarta
Sampel : 50 orang
Analisis Regresi Linear Berganda
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan, disiplin kerja dan lingkungan kerja berpengaruh  positif terhadap kinerja, sedangkan motivasi kerja mempunyai pengaruh negatif terhadap kinerja. Variabel yang berpengaruh paling dominan terhadap kinerja adalah lingkungan kerja.
Peneliti Ketiga
I Nyoman Jaka Alit Wiratama dan Desak Ketut Sintaasih (2013)
Pengaruh Kepemimpinan, Diklat dan Disiplin Kerja Terhadap Kinerja Karyawan PDAM Tirta Mangutama Kabupaten Badung
Kepemimpinan, Disiplin Kerja dan Kinerja
Populasi :
214 orang
Sampel : 91 orang
Analisis Regresi Linear Berganda
Hasil analisis menunjukkan bahwa kepemimpinan, pendidikan dan pelatihan, serta disiplin kerja karyawan secara simultan berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan. Secara parsial kepemim bahwa kepemimpinan, pendidikan dan pelatihan, serta disiplin kerja karyawan juga berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan.
Peneliti Keempat
Heri Susanto dan Nuraini Aisiyah (2010)
Analisis Pengaruh Kepemimpinan dan Budaya Kerja dengan Motivasi sebagai Variabel Intervening Terhadap Kinerja Karyawan di Kantor Pertanahan Kabupaten Kebumen
Kepemimpinan, Budaya Kerja dan Kinerja
Populasi : 85 Orang
Sampel : 85 Orang
Partial Least Square (PLS)
Hasil penelitian menunjuk-kan bahwa kepemimpi-nan transformasi-onal
dan kompensasi berpengaruh positif terhadap kinerja pegawai, namun budaya organisasi tidak
berpengaruh terhadap kinerja pegawai. Selanjutnya, hasil menunjuk- kan bahwa
kepemimpi-nan transformasi-onal mempunyai pengaruh yang lebih kuat terhadap kinerja pegawai
daripada kompensasi.
Peneliti Kelima
Makkira, Gunawan dan Abdul Razak Munir (2016)
Pengaruh Disiplin Kerja, Komitmen Organisasi dan Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Pada PT Trans Retail Indonesia (Carrefour) Cabang Panakkukang Makassar
Disiplin Kerja, Komitmen Organisasi, Lingkungan Kerja dan Kinerja
Populasi : 80 Orang Sampel : 80 Orang
Analisis Regresi Linier Berganda
Hasil penelitian menunjuk-kan Disiplin Kerja, Komitmen Organisasi dan Lingkungan Kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karawan.


Sumber : Diolah Penulis, 2018

2.2         Persamaan dan Perbedaan Penelitian Terdahulu
Dari kajian penelitian terdahulu di atas terdapat persamaan dan perbedaan sebagai berikut :
2.2.1 Persamaan Penelitian Terdahulu
Persamaan dari lima peneliti terdahulu di atas adalah variabel bebas kepemimpinan (X1) yang sama dengan peneliti terdahulu milik Karsono, Denok Kurniasih dan Dyah Retna Puspita (2017), Bangun Prajadi Cipto Utomo (2014), I Nyoman Jaka Alit Wiratama dan Desak Ketut Sintaasih (2013), Heri Susanto dan Nuraini Aisiyah. Variabel bebas budaya kerja (X2) yang sama dengan peneliti terdahulu milik Karsono, Denok Kurniasih dan Dyah Retna Puspita (2017) dan Heri Susanto dan Nuraini Aisiyah (2010). Variabel bebas disiplin kerja (X3) yang sama dengan peneliti terdahulu milik Karsono, Denok Kurniasih dan Dyah Retna Puspita (2017), Bangun Prajadi Cipto Utomo (2014), I Nyoman Jaka Alit Wiratama dan Desak Ketut Sintaasih (2013) serta Makkira, Gunawan dan Abdul Razak Munir (2016) yang juga melakukan penelitian pada perusahaan retail. Slanjutnya, seluruh peneliti terdahulu menggunakan variabel terikat (Y) kinerja.
2.2.2   Perbedaan Penelitian terdahulu
Selain persamaan yang sudah dijelaskan di atas tentunya penelitian tersebut memiliki perbedaan, yang membedakan dari penelitian di atas terletak pada lokasi dan obyek yang diteliti. Peneliti terdahulu pertama milik Karsono, Denok Kurniasih dan Dyah Retna Puspita (2017) obyeknya pada sektor jasa transportasi serta menggunakan kompensasi sebagai salah satu variabel bebas, Bangun Prajadi Cipto Utomo (2014) pada sektor jasa pendidikan serta menggunakan motivasi kerja dan lingkungan kerja sebagai variabel bebas selain kepemimpinan dan disiplin kerja, I Nyoman Jaka Alit Wiratama dan Desak Ketut Sintaasih (2013) pada sektor jasa (PDAM) serta menggunakan diklat sebagai salah satu variabel bebas, Heri Susanto dan Nuraini Aisiyah (2010) pada kantor pertanahan serta menggunakan motivasi sebagai variabel intervening dan yang terakhir Makkira, Gunawan dan Abdul Razak Munir (2016) pada PT Trans Retail Indonesia (Carrefour) Cabang Panakkukang Makassar menggunakan komitmen organisasi dan lingkungan kerja sebagai variabel bebas.
2.3         Landasan Teori
Landasan teori berikut berisi tentang teori-teori yang digunakan penulis sebagai acuan penelitian.
2.3.1   Grand Theory
Grand theory merupakan setiap teori yang dicoba dari penjelasan keseluruhan dari kehidupan sosial, sejarah atau pengalaman manusia. Grand theory yang digunakan dalam penelitian ini adalah Manajemen. Menurut Hasibuan (2012:1) manajemen adalah ilmu dan seni yang mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan tertentu. Manajemen yang baik akan memudahkan terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan, dan masyarakat.
Selain itu, menurut Griffin dalam  Ridhotullah dan Jauhar (2015:1) manajemen adalah sebuah proses, perencanaan, pengorganisasian, pengoordinasian dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran secara efektif dan efisien.
2.3.2   Middle Theory
Middle theory adalah pembahasan yang lebih fokus dan mendetail atas suatu Grand theory. Middle theory yang digunakan dalam penelitian ini adalah  teori dari Manajemen Sumber Daya Manusia. Dalam menjalankan aktivitas sebuah organisasi perlu adanya manajemen sumber daya manusia yang baik agar  kegiatan perusahaan dapat dilaksanakan oleh SDM yang berkualitas serta profesional dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Menurut Hasibuan (2012:10) manajemen  sumber  daya  manusia  adalah  ilmu  dan  seni  yang mengatur hubungan dan peranan tenaga kerja agar efektif dan efisien membantu terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan dan masyarakat. Menurut Rachmawati (2008:3) Manajemen Sumber Daya Manusia merupakan suatu proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan kegiatan-kegiatan pengadaan, pengembangan, pemberian kompensasi, pengintegrasian, pemeliharaan, dan pelepasan sumber daya manusia agar tercapai berbagai tujuan individu, organisasi dan masyarakat.
2.3.3   Applied Theory
Applied Theory berisi tentang teori dan indikator dari variabel yang digunakan dalam penelitian, yakni kepemimpinan, budaya kerja, disiplin kerja serta kinerja.
a.             Kepemimpinan
1.        Pengertian Kepemimpinan
Menurut Rivai, dkk (2014:2) kepemimpinan secara luas meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya. Selain itu juga mempengaruhi interpretasi mengenai peristiwa-peristiwa para pengikutnya, pengorganisasian dan aktivitas-aktivitas untuk mencapai sasaran, memelihara hubungan kerja sama dan kerja kelompok, perolehan dukungan dan kerja sama dari orang-orang di luar kelompok atau organisasi. Kepemimpinan sebagai sebuah alat, sarana atau proses membujuk orang agar bersedia melakukan sesuatu secara sukarela atau sukacita.
2.        Hakikat Kepemimpinan
Menurut Rivai, dkk (2014:3) Kepemimpinan juga dikatakan sebagai proses mengarahkan dan mempengaruhi aktivitas-aktivitas yang ada hubungannya dengan pekerjaan para anggota kelompok. Oleh karena itu, kepemimpinan pada hakikatnya adalah :
a)        Proses mempengaruhi atau memberi contoh dari pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi.
b)        Seni mempengaruhi dan mengarahkan orang dengan cara kepatuhan, kepercayaan, kehormatan dan kerja sama yang bersemagat dalam mencapai tujuan bersama.
c)        Kemampuan untuk mempengaruhi, memberi inspirasi dan mengarahkan tindakan seseorang atau kelompok untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
d)       Melibatkan tiga hal yaitu, pemimpin, pengikut dan situasi tertentu.
e)        Kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok untuk mencapai tujuan. Sumber pengaruh dapat secara formal dan tidak formal. Pengaruh formal ada bila seorang pemimpin memiliki posisi manajerial dalam sebuah organisasi, sedangkan pengaruh tidak formal muncul di luar struktur organisasi formal.
3.        Fungsi Kepemimpinan
Menurut Rivai, dkk (2014:34) mengemukakan bahwa fungsi kepemimpinan merupakan gejala sosial, karena harus diwujudkan dalam interaksi antarindividu di dalam situasi sosial suatu kelompok atau organisasi. Fungsi kepemimpinan memiliki dua dimensi seperti :
a)        Dimensi yang berkenaan dengan tingkat kemampuan mengarahkan (direction) dalam tindakan atau aktivitas pemimpin.
b)        Dimensi yang berkenaan dengan tingkat dukungan (support) atau keterlibatan orang-orang yang dipimpin dalam melaksanakan tugas-tugas pokok kelompok atau organisasi.
Secara operasional dapat dibedakan dalam lima fungsi pokok kepemimpinan, yaitu :
a)        Fungsi instruksi
Fungsi ini bersifat komunikasi satu arah. Pemimpin sebagai komunikator merupakan pihak yang menentukan apa, bagaimana, bilamana, dan dimana perintah itu dikerjakan agar keputusan dapat dilaksanakan secara efektif. Kepemimpinan yang efektif memerlukan kemampuan untuk menggerakkan dan memotivasi orang lain agar mau melaksanakan perintah.
b)        Fungsi konsultasi
Fungsi ini bersifat komunikasi dua arah. Pada tahap pertama dalam usaha menetapkan keputusan, pemimpin kerapkali memerlukan bahan pertimbangan, yang mengharuskannya berkonsultasi dengan orang-orang yang dipimpinnya yang dinilai mempunyai berbagai bahan informasi yang diperlukan dalam menetapkan keputusan. Konsultasi ini dimaksudkan untuk memperoleh umpan balik untuk memperbaiki da menyempurnakan keputusan-keputusan yang telah ditetapkan dan dilaksanakan. Dengan menjalankan fungsi konsultasi diharapkan keputusan-keputusa pimpinan akan mendapat dukungan dan lebih mudah mengintruksikannya, sehingga kepemimpinan berlangsung efektif.
c)        Fungsi partisipasi
Dalam menjalani fungsi ini pemimpin berusaha mengaktifkan orang-orang yang dipimpinnya, baik dalam keikutsertaan mengambil keputusan maupun dalam melaksanakannya. Partisipasi tidak berarti bebas berbuat semaunya, tetapi dilakukan secara terkendali dan terarah berupa kerja sama dengan tidak mencampuri atau mengambil tugas pokok orang lain. Keikutsertaan pemimpin harus tetap dalam fungsi sebagai pemimpin bukan pelaksana.
d)       Fungsi delegasi
Fungsi ini dilakukan dengan memberikan pelimpahan wewenang membuat atau menetapkan keputuasan, baik melalui pertsetujuan maupun tanpa persetujuan dari pimpinan. Fungsi delegasi pada dasarnya berarti kepercayaan. Orang-orang penerima delegasi itu harus diyakini merupakan pembantu pemimpin yang memiliki kesamaan prinsip, presepsi dan aspirasi.
e)        Fungsi pengendalian
Fungsi pengendalian bermaksud bahwa kepemimpinan yang sukses atau efektif mampu mengatur aktivitas anggotanya secara terarah dan dalam koordinasi yang efektif sehingga memungkinkan tercapainya tujuan bersama secara maksimal. Fungsi pengendalian dapat diwujudkan melalui kegiatan bimbingan, pengarahan, koordinasi dan pengawasan.
4.        Tipe Kepemimpinan
Menurut Rivai, dkk (2014:36) Dalam melaksanakan fungsi-fungsi kepemimpinan, maka akan berlangsung aktivitas kepemimpinan. Apabila aktivitas tersebut dipilah-pilah, maka akan terlihat gaya kepemimpinan dengan polanya masing-masing. Gaya kepemimpinan tersebut merupakan dasar dalam mengklasifikasikan tipe kepemimpinan. Gaya kepemimpinan memiliki tiga pola dasar, yaitu : Gaya kepemimpinan yang berpola pada kepentingan pelaksanaan tugas, gaya kepemimpinan yang berpola pada pelaksanaan hubungan kerja sama, gaya kepemimpinan yang berpola pada kepentingan hasil yang dicapai.
Berdasarkan tiga pola dasar tersebut, terbentuk perilaku kepemimpinan yang terdiri dari tiga tipe pokok kepemimpinan, yaitu :
a)        Tipe Kepemimpinan Otoriter
Tipe kepemimpinan ini menempatkan kekuasaan di tangan satu orang. Pemimpin bertindak sebagai petugas tunggal. Kedudukan dan tugas anak buah semata-mata hanya sebagai pelaksana keputusan, perintah dan bahkan kehendak pimpinan. Pemimpin memandang dirinya lebih dalam segala hal, dibandingkan dengan bawahannya. Kemampuan bawahan selalu dipandang rendah sehingga dianggap tidak mampu berbuat sesuatu tanpa diperintah.
b)        Tipe Kepemimpinan Kendali Bebas
Tipe kepemimpinan ini merupakan kebalikan dari tipe kepemimpinan otoriter. Pemimpin berkedudukan sebagai simbol. Kepemimpinan dijalankan dengan memberikan kebebasan penuh pada orang yang dipimpin dalam mengambil keputusan dan melakukan kegiatan menurut kehendak dan kepentingan masing-masing, baik secara perorangan maupun kelompok-kelompok kecil. Pimpinan hanya mengfungsinkan dirinya sebagai penasihat.
c)        Tipe Kepemimpinan Demokratis
Tipe kepemimpinan ini menempatkan manusia sebagai faktor utama dan terpenting dalam setiap kelompok atau organisasi. Pemimpin memandang dan menempatkan orang-orang yang dipimpinnya sebagai subjek yang memiliki kepribadian dengan berbagai aspeknya, seperti dirinya juga. Kemauan, kehendak, buah pikiran, pendapat, kreativitas, inisiatif yang berbeda-beda dan dihargai disalurkan secara wajar. Tipe pemimpin ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap orag yang dipimpin. Kepemimpinan demokratis adalah kepemimpinan yang aktif, dinamis, dan terarah. Kepemimpinan tipe ini dalam mengambil keputusan sangat mementingkan musyawarah, yang diwujudkan pada setiap jenjang dan di dalam unit masing-masing.
5.             Indikator Kepemimpinan
Menurut Terry dalam Kartono (2014:47), indikator-indikator kepemimpinan dapat dilihat sebagai berikut:
a)        Stabilitas Emosi
Pemimpin yang baik itu memiliki emosi yang stabil. Artinya dia tidak mudah marah, tersinggung perasaaan dan tidak meledak-ledak secara emosional. Ia menghormati martabat orang lain, toleran terhadap kelemahan orang lain, dan bisa memaafkan kesalahan yang tidak terlalu prinsipiil. Semua itu diarahkan untuk mencapai lingkungan sosial yang rukun, damai, harmonis dan menyenangkan.
b)        Kejujuran
Pemimpin yang baik itu harus memiliki kejujuran yang tinggi yaitu jujur pada diri sendiri dan pada orang lain (terutama bawahannya). Dia selalu menepati janji, tidak munafik, dapat dipercaya dan berlaku adil terhadap semua orang.
c)        Objektif
Pertimbangan pemimpin itu harus berdasarkan hati nurani yang bersih, supaya objektif (tidak subjektif, berdasar prasangka sendiri). Dia akan mencari bukti-bukti nyata dan sebab-musabab setiap kejadian dan memberikan alasan yang rasional atas penolakannya.
d)       Keterampilan berkomunikasi
Pemimpin diharapkan mahir menulis dan berbicara, mudah menangkap maksud orang lain, cepat menangkap esensi pernyataan orang luar dan mudah memahami maksud para anggotanya. Juga pandai mengkoordinasikan macam-macam sumber tenaga manusia dan mahir mengintegrasikan berbagai opini serta aliran yang berbeda-beda untuk mencapai kerukunan dan keseimbangan.
e)        Kemampuan mengajar
Pemimpin yang baik itu diharapkan juga menjadi guru yang baik. Mengajar itu adalah membawa siswa secara sistematis dan intensional pada sasaran-sasaran tertentu, guna mengembangkan pengetahuan, keterapilan atau teknis tertentu, dan menambah pengalaman mereka. Yang dituju ialah agar para pengikutnya bisa mandiri, mau memberikan loyalitas dan partisipasinya.
f)         Keterampilan sosial
Pemimpin diharapkan memiliki kemampuan untuk mengelola manusia, agar mereka dapat mengembangkan bakat dan potensinya. Pemimpin dapat mengenali kelemahan dan kekuatan setiap anggotanya, agar bisa ditempatkan pada tugas-tugas yang cocok dengan pembawaan masing-masing. Pemimpin juga mampu mendorong bawahannya untuk berusaha mengembangkan diri dengan caranya sendiri yang dianggap paling cocok.
b.             Budaya Kerja
1.        Pengertian Budaya Kerja
Menurut Ndraha (2012:80-81) bahwa definisi budaya kerja secara umum sebagai sekelompok pikiran dasar atau program mental yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi kerja dan kerjasama manusia yang dimiliki oleh suatu golongan masyarakat. Budaya kerja dapat dibagi menjadi 2, yaitu :
a)        Sikap terhadap pekerjaan, yakni kesukaan akan kerja dibandingkan dengan kegiatan lain, seperti bersantai, atau semata-mata memperoleh kepuasan dari kesibukan pekerjaannya sendiri, atau merasa terpaksa melakukan sesuatu hanya untuk kelangsungan hidup.
b)        Perilaku pada waktu bekerja, seperti rajin, berdedikasi, bertanggungjawab, berhati-hati, teliti, cermat, kemauan yang kuat untuk mempelajari tugas dan kewajibannya, suka membantu sesama karyawan atau sebaliknya.
2.        Terbentuknya Budaya Kerja
Yuningsih dan Hayati (2008:6) mengemukakan bahwa pada dasarnya budaya kerja dalam suatu organisasi tidak terbentuk dengan sendirinya, melainkan dari pihak-pihak yang berinisiatif dan menciptakan. Inisiatif ini biasanya tertuang dalam filosofi organisasi. Berawal dari sinilah budaya kerja terbentuk dan selanjutnya dikomunikasikan kepada seluruh anggota- anggota organisasi. Umumnya budaya diciptakan oleh pendiri atau top management yang mendirikan atau merintis organisasi. Falsafah atau strategi yang ditetapkan menjadi petunjuk dan pedoman pegawai dalam pelaksanaan tugas. Bila implementasinya baik maka filosofi yang diyakini akan berkembang menjadi suatu budaya.
3.        Fungsi Budaya Kerja
Menurut Tika (2010:14), fungsi utama budaya kerja adalah sebagai berikut :
a)        Sebagai batas pembeda terhadap lingkungan.
Organisasi maupun kelompok lain. Batas pembeda ini karena adanya identitas tertentu yang dimiliki oleh suatu perusahaan atau kelompok yang tidak dimiliki organisasi atau kelompok lain.
b)        Sebagai perekat bagi karyawan dalam suatu perusahaan.
Hal ini merupakan bagian dari komitmen kolektif dari karyawan.Mereka bangga sebagai seorang karyawan/karyawan suatu perusahaan. Para karyawan mempunyai rasa  memiliki partisipasi dan rasa tanggung jawab atas kemajuan perusahaannya.
c)        Mempromosikan stabilitas system sosial.
Hal ini tergambarkan dimana lingkungan kerja dirasakan positif, mendukung dan konflik serta perubahan diatur secara efektif.
d)       Sebagai mekanisme control sikap serta perilaku karyawan.
Dengan dilebarkannya mekanisme control, didatarkannya struktur, diperkenalkannya dan diberi kuasanya karyawan oleh perusahaan, makna bersama yang diberikan oleh suatu budaya yang kuat memastikan bahwa semua orang diarahkan ke arah yang sama.
e)        Sebagai integrator.
Budaya kerja dapat dijadikan sebagai integrator karena adanya sub budaya baru. Kondisi seperti ini biasanya dialami oleh adanya perusahaan-perusahaan besar di mana setiap unit terdapat para anggota perusahaan yang terdiri sekumpulan individu yang mempunyai latar belakang budaya yang berbeda.
f)         Membentuk perilaku bagi karyawan.
Fungsi seperti ini dimaksudkan agar para karyawan dapat memahami bagaimana mecapai tujuan perusahaan.
g)        Sebagai sarana untuk menyelesaikan masalah pokok perusahaan.
Masalah utama yang sering dihadapi perusahaan adalah masalah adaptasi terhadap lingkungan eksternal dan masalah integrasi internal. Budaya kerja diharapkan dapat berfungsi mengatasi masalah-masalah tersebut.
h)        Sebagai acuan dalam menyusun perencanaan perusahaan.
Fungsi budaya kerja adalah sebagai acuan untuk menyusun perencanaan pemasaran, segmentasi pasar, penentuan positing yang akan dikuasai perusahaan tersebut.
i)          Sebagai alat komunikasi
Budaya kerja dapat berfungsi sebagai alat komunikasi antara atasan dan bawahan atau sebaliknya, serta antara anggota organisasi. Budaya sebagai alat komunikasi tercermin pada aspek-aspek komunikasi yang mencakup kata-kata segala sesuatu bersifat material dan perilaku.
4.        Indikator Budaya Kerja
Menurut Ndraha (2012:83) komponen-komponen budaya kerja terdiri dari :
a)        Anggapan dasar tentang kerja
Pendirian atau anggapan dasar atau kepercayaan dasar tentang kerja, terbentuknya melalui konstruksi pemikiran silogistik. Premisnya adalah pengalaman hidup empiric, dan kesimpulan.
b)        Sikap terhadap pekerjaan
Manusia menunjukkan berbagai sikap terhadap kerja.Sikap adalah kecenderungan jiwa terhadap sesuatu. Kecenderungan itu berkisar antara menerima sepenuhnya atau menolak sekeras-kerasnya.
c)        Perilaku ketika bekerja
Dan sikap terhadap bekerja, lahir perilaku ketika bekerja.Perilaku menunjukkan bagaimana seseorang bekerja.
d)       Lingkungan kerja dan alat kerja
Dalam lingkungan, manusia membangun lingkungan kerja yang nyaman dan menggunakan alat (teknologi) agar ia bekerja efektif, efisien dan produktif.
e)        Etos kerja
Istilah etos diartikan sebagai watak atau semangat fundamental budaya, berbagai ungkapan yang menunjukkan kepercayaan, kebiasaan, atau perilaku suatu kelompok masyarakat.Jadi etos berkaitan erat dengan budaya kerja.
c.              Disiplin Kerja
1.        Pengertian Disiplin Kerja
Menurut Sutrisno (2012:85) Kehidupan dalam suatu perusahaan akan sangat membutuhkan disiplin kerja, yakni ketaatan dari anggota-anggotanya pada peraturan dan ketentuan yang berlaku pada perusahaan tersebut. Dengan kata lain, disiplin kerja pada karyawan sangat dibutuhkan, karena apa yang menjadi tujuan perusahaan akan sukar dicapai bila tidak ada disiplin kerja. Menurut Singodimedjo dalam Sutrisno (2012:86), disiplin adalah sikap kesediaan dan kerelaan seseorang untuk mematuhi dan menaati norma-norma peraturan yang berlaku disekitarnya. Disiplin karyawan yang baik akan mempercepat tujuan perusahaan, sedangkan disiplin yang merosot akan menjadi penghalang dan memperlambat pencapaian tujuan perusahaan.
2.        Pelaksanaan Disiplin Kerja
Singodimedjo dalam Sutrisno (2012:94) mengemukakan bahwa organisasai atau perusahaan yang baik harus berupaya menciptakan peraturan atau tata tertib yang akan menjadi rambu-rambu yang harus dipenuhi oleh seluruh karyawan dalam organisasi. Peraturan-peraturan yang akan berkaitan dengan disiplin itu antara lain :
a)        Peraturan jam masuk, pulang dan jam istirahat.
b)        Peraturan dasar tentang berpakaian dan bertingkah laku dalam pekerjaan.
c)        Peraturan cara-cara melakukan pekerjaan dan berhubungan dengan unit kerja lain.
d)       Peraturan tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh para pegawai selama dalam organisasi dan sebagainya.
Dalam pelaksanaan disiplin kerja, peraturan dan ketetapan perusahaan hendaknya masuk akal dan bersifat adil bagi seluruh karyawan, selain itu hendaknya peraturan tersebut juga dikomunikasikan sehingga para karyawan tahu apa yang menjadi larangan dan apa yang tidak.
3.        Manfaat Disiplin Kerja yang Baik
Sutrisno (2012:86) menyatakan bahwa bentuk disiplin kerja yang baik akan tercermin pada suasana, yaitu :
a)        Tingginya rasa kepedulian karyawan terhadap pencapaian tujuan perusahaan.
b)        Tingginya semangat dan gairah kerja dan inisiatif para karyawan dalam melakukan pekerjaan.
c)        Besarnya rasa tanggung jawab para karyawan untuk melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya
d)       Berkembangnya rasa memiliki dan rasa solidaritas yang tinggi di kalangan karyawan.
e)        Meningkatnya efisiensi dan produktivitas kerja para karyawan dalam perusahaan.
4.        Pentingnya Disiplin Kerja
Sutrisno (2012:88) menyatakan bahwa disiplin kerja dapat dilihat sebagai sesuatu yang besar manfaatnya, baik bagi kepentingan organisasi maupun bagi para karyawan. Bagi organisaasi adanya disiplin kerja akan menjamin terpeliharanya tata tertib dan kelancaran pelaksanaan tugas, sehingga diperoleh hasil yang optimal. Adapun bagi karyawan akan diperoleh suasana kerja yang menyenangkan sehingga akan menambah semangat kerja dalam melaksanakan pekerjaannya. Dengan demikian, karyawan dapat melaksanakan tugasnya dengan penuh kesadaran serta dapat mengembangkan tenaga dan pikirannya semaksimal mungkin demi terwujudnya tujuan organisasi.
Ketidakdisiplinan dan kedisiplinan dapat menjadi panutan orang lain. Jika lingkungan kerja semuanya disiplin, maka seorang pegawai akan ikut disiplin, tetapi jika lingkungan kerja organisasi tidak disiplin, maka seorang pegawai juga akan ikut tidak disiplin. Untuk itu sangat sulit bagi lingkungan kerja yang tidak disiplin tetapi ingin menerapkan kedisiplinan pegawai, karena lingkungan kerja akan menjadi panutan bagi para pegawai.
5.        Indikator Disiplin Kerja
Menurut Sutrisno (2012:89) perlu dipahami indikator-indikator yang mempengaruhi tingkat kedisiplinan karyawan pada suatu perusahaan, yaitu sebagai berikut :
a)        Besar kecilnya pemberian kompensasi
Besar kecilnya kompensasi dapat mempengaruhi tegaknya disiplin. Para karyawan akan mematuhi segala peraturan yang berlaku, bila karyawan merasa mendapat jaminan balas jasa yang setimpal dengan jerih payahnya yang telah dikontribusikan kepada perusahaan.
b)        Teladan pimpinan
Peranan keteladanan pimpinan sangat berpengaruh besar dalam perusahaan, bahkan sangat dominan dibandingkan dengan faktor lain, karena pemimpin dalam suatu perusahaan masih menjadi panutan karyawan. Oleh sebab itu, bila seorang pemimpin menginginkan tegaknya disiplin dalam perusahaan, maka pemimpin harus lebih dulu mempraktikkan, agar dapat diikuti dengan baik oleh para karyawannya.
c)        Aturan yang pasti
Pembinaan disiplin tidak akan dapat terlaksana dalam perusahaan, bila tidak ada aturan tertulis yang pasti untuk dapat dijadikan pegangan bersama. Disiplin tidak mungkin ditegakkan bila peraturan yang dibuat hanya berdasarkan instruksi lisan yang dapat berubah-ubah sesuai dengan kondisi dan situasi.
d)       Ketegasan pemimpin
Bila ada seorang karyawan yang melanggar disiplin, maka perlu ada kebranian pimpinan untuk mengambil keputusan sesuai dengan tingkat pelanggaran yang dibuatnya. Dengan adanya tindakan terhadap pelanggaran disiplin, sesuai dengan sanksi yang ada, maka semua karyawan akan merasa terlindungi.
e)        Pengawasan
Dalam setiap kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan perlu ada pengawasan, yang akan mengarahkan para karyawan agar dapat melaksanakan pekerjaan dengan tepat dan sesuai dengan yang telah ditetapkan. Dengan adanya pengawasan, maka sedikit banyak para karyawan akan terbiasa melaksanakan disiplin kerja.
d.        Kinerja
1.        Pengertian Kinerja
Menurut Hasibuan (2012:94) kinerja adalah suatu hasil yang dicapai oleh seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya. Dalam suatu proses atau pelaksanaan tugasnya sesuai dengan tanggung jawabnya dan seberapa banyak pengaruhnya terhadap pencapaian tujuan organisasi.
2.        Tujuan dan Kegunaan Penilaian Kinerja
Menurut Hasibuan (2012:89) penilaian kinerja karyawan berguna untuk perusahaan serta harus bermanfaat bagi karyawan. Adapun tujuan dan kegunaan penilaian kinerja adalah sebagai berikut :
a)             Sebagai dasar dalam pengambilan keputusan yang digunakan untuk promosi, demosi, pemberhentian dan penetapan besarnya balas jasa.
b)             Untuk mengukur prestasi kerja yaitu sejauh mana karyawan bisa sukses dalam pekerjaanya.
c)             Sebagai dasar untuk mengevaluasi efektivitas seluruh kegiatan di dalam perusahaan.
d)            Sebagai dasar untuk mengevaluasi program latihan dan keefektifan jadwal kerja, metode kerja, struktur organisasi, gaya pengawasan, kondisi kerja, dan peralatan kerja.
e)             Sebagai indikator untuk menentukan kebutuhan akan latihan bagi karyawan yang berada di dalam organisasi.
f)              Sebagai alat untuk meningkatkan motivasi kerja karyawan sehingga dicapai tujuan untuk mendapatkan performance kerja yang baik.
g)             Sebagai alat mendorong atau membiasakan (supervisor, manager, administrator) untuk mengobservasi perilaku bawahan (subordinate) supaya diketahui minat dan kebutuhan-kebutuhan bawahannya.
h)             Sebagai alat untuk bisa melihat kekurangan atau kelemahan-kelemahan di masa lampau dan meningkatkan kemampuan karyawan selanjutnya.
i)               Sebagai criteria di dalam menentukan seleksi dan penempatan karyawan.
j)               Sebagai alat untuk mengidentifikasi kelemahan-kelemahan personel dan dengan demikian bisa sebagai bahan pertimbangan agar bisa diikutsertakan dalam program latihan kerja tambahan.
k)             Sebagai alat untuk memperbaiki atau mengembangkan kecakapan karyawan.
l)               Sebagai dasar untuk memperbaiki dan mengembangkan uraian pekerjaan (job description)
3.             Indikator Kinerja
Menurut Hasibuan (2012:95) indikator dari kinerja karyawan adalah sebagai berikut :
a)        Kualitas dan kuantitas kerja
Merupakan  hasil  kerja  baik kualitas  maupun kuantitas yang dapat dihasilkan karyawan tersebut dari uraian pekerjaannya.
b)        Kedisiplinan
Mencerminkan kepatuhan karyawan dalam mematuhi peraturan-peraturan yang ada dan melakukan pekerjaannya  sesuai  dengan instruksi yang diberikan kepadanya.
c)        Kerja sama
Kesediaan karyawan berprestasi dan bekerja sama dengan karyawan lainnya secara vertikal dan horizontal didalam  maupun diluar pekerjaannya.
d)       Tanggung jawab
Kesediaan karyawan dalam mempertanggungjawabkan kebijaksanaannya, dan hasil kerjanya, sarana dan prasarana yang digunakannya, serta perilaku kerjanya.
e.         Direct Selling
Direct Selling adalah penjualan langsung yang merupakan suatu jenis pedagang eceran yang menggunakan metode langsung ke konsumen dalam memasarkan barang dagangannya dengan melalui tenaga penjual yang mendatangi konsumen secara langsung (Foster, 2008:42). Seorang penjual langsung bisa berasal dari seorang agen komersial yang independen, seorang kontraktor independen, seorang dealer atau distributor independen, seorang wakil yang dipekerjakan oleh perusahaan atau yang mandiri, pemegang hak waralaba atau yang semacamnya. Pada PT Ramayana Lestari Sentosa, Tbk. Cabang Dinoyo Malang, seluruh karyawan yang menjaga counter juga disebut karyawan bagian toko atau bisa juga bagian direct selling karena yang melakukan penjualan langsung kepada customer.
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1         Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di PT Ramayana Lestari Sentosa, Tbk. yang bealamatkan di Jalan MT Haryono No. 195-197 Dinoyo, Malang-Jawa Timur.

3.2         Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini menggunakan desain riset kausal atau sebab akibat yang berguna untuk menganalisa hubungan–hubungan antar satu variabel dengan variabel lainnya. Menurut Sugiyono (2015:37) hubungan kausal adalah hubungan yang bersifat sebab akibat. Jadi disini ada variabel bebas (variabel yang mempengaruhi) dan terikat (dipengaruhi) Berdasarkan uraian diatas maka desain riset kausal mengarah pada terjadinya hubungan sebab akibat antara variabel–variabel bebas (X) kepemimpinan, budaya kerja dan disiplin kerja terhadap variabel terikat (Y) kinerja karyawan PT Ramayana Lestari Sentosa, Tbk.

3.3         Jenis dan Sumber Data
Berikut ini adalah jenis data dan sumber data yang akan digunakan dalam penelitian.
3.3.1    Jenis Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kualitatif (pendapat responden yang diperoleh dengan menyebarkan kuesioner) yang dikuantitatifkan agar dapat diproses menggunakan statistik. Data kuantitatif adalah data yang berbentuk angka atau data kualitatif yang di angkakan, Sugiyono (2015:14). Dalam penelitian ini data yang digunakan berasal dari responden yang merupakan karyawan PT Ramayana Lestari Sentosa, Tbk. Cabang Dinoyo Malang.
3.3.2    Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini dibagi menjadi dua yaitu :
a.         Data Primer
Merupakan data yang diperoleh secara langsung dari objek yang diteliti. Menurut Sugiyono (2015:137) yang menyatakan bahwa sumber primer adalah sumber data yang langsung memberikan  data kepada pengumpul data. Penelitian data primer diperoleh dengan melakukan wawancara secara langsung dengan pihak-pihak yang berkaitan dengan penelitian ini. Wawancara dilakukan pada bagian SDM dan menyebar kuesioner kepada karyawan PT Ramayana Lestari Sentosa, Tbk. Cabang Dinoyo Malang.
b.        Data Sekunder
Pengertian  dari  data  sekunder menurut Sugiyono (2015:137) adalah sumber  data  yang  tidak  langsung memberikan  data  kepada pengumpul data, misalnya lewat orang lain atau lewat dokumen. Dalam penelitian ini penulis menggunakan data sekunder berupa dari sumber buku  dan informasi lain yang berkaitan dengan penelitian pada PT Ramayana Lestari Sentosa, Tbk. Cabang Dinoyo Malang.


3.4         Populasi dan Sampel
Berikut ini adalah populasi yang akan diambil dalam penelitian dan teknik sampling yang akan digunakan untuk mengambil sampel yang akan dijadikan sebagai responden penelitian.
3.4.1    Populasi
            Menurut Sugiyono (2015:80) populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi penelitian ini adalah karyawan pada bagian toko yang melakukan penjualan langsung (direct selling) di  PT Ramayana Lestari Sentosa, Tbk. Cabang Dinoyo Malang yang berjumlah  78 orang. Peneliti memilih karyawan bagian toko karena karyawan toko berjumlah paling besar, serta karyawan toko adalah pusat dimana kegiatan perusahaan berlangsung yaitu bertugas untuk melakukan penjualan dan melayani customer pada Ramayana departemen store.
3.4.2    Sampel
            Menurut Sugiyono (2015:81) sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Dalam penelitian ini teknik pengambilan sampel adalah sampling jenuh. Menurut sugiyono (2015:85) sampling jenuh merupakan teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil atau penelitian yang ingin membuat generalisasi dengan kesalahan yang sangat kecil. Istilah lain sampel jenuh adalah sensus. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah karyawan bagian toko di PT Ramayana Lestari Sentosa, Tbk. Cabang Dinoyo Malang yang berjumlah 78 orang.

3.5         Definisi Operasional Variabel
            Operasionalisasi variabel diperlukan dalam menentukan jenis, indikator, serta skala dari variabel-variabel yang terkait dalam suatu penelitian, sehingga pengujian hipotesis dengan alat bantu statistik dapat dilakukan secara benar.
3.5.1    Variabel Bebas (X)
a.         Kepemimpinan (X1)
Pimpinan PT Ramayana Lestari Sentosa, Tbk. Cabang Dinoyo Malang memiliki strategi atau cara untuk dapat mempengaruhi perilaku karyawan bagian toko agar mau bekerja sama dan bekerja secara produktif untuk mencapai tujuan perusahaan. Adapun indikator kepemimpinan menurut George R. Terry dalam Kartono (2014:47) adalah sebagai berikut :
g)        Stabilitas Emosi
h)        Objektif
i)          Keterampilan berkomunikasi
j)          Kemampuan mengajar
b.        Budaya Kerja
Sikap terhadap pekerjaan dan perilaku ketika bekerja yang ditunjukkan oleh karyawan bagian toko PT Ramayana Lestari Sentosa, Tbk. Cabang Dinoyo Malang dalam bekerja sehari-hari. Adapun indikator budaya kerja menurut Ndraha (2012:83) yaitu :
1.        Anggapan dasar tentang kerja
2.        Sikap terhadap pekerjaan
3.        Perilaku ketika bekerja
4.        Lingkungan kerja
c.         Disiplin Kerja
Sikap yang digunakan PT Ramayana Lestari Sentosa, Tbk. Cabang Dinoyo Malang untuk melihat kesadaran dan ketersediaan karyawan bagian toko untuk menaati semua peraturan, ketentuan serta norma-norma yang berlaku pada perusahaan. Indikator disiplin kerja menurut Sutrisno (2012:89) adalah :
1.      Balas jasa
2.      Teladan pimpinan
3.      Ketegasan pemimpin
4.      Pengawasan
3.5.2    Variabel Terikat (Y)
a.         Kinerja Karyawan
Hasil kerja yang mampu dicapai karyawan bagian toko PT Ramayana Lestari Sentosa, Tbk. Cabang Dinoyo Malang dalam melaksanakan penjualan langsung terhadap customer atau melakukan pelayanan sesuai dengan tanggung jawabnya. Indikator kinerja karyawan menurut Hasibuan (2012:95) yaitu :
1.        Kualitas dan kuantitas kerja
2.        Kerjasama
3.        Tanggung jawab


Tabel 3.1
Definisi Operasional Variabel

Variabel
Definisi
Indikator
Item Pernyataan
Skala
Kepemimpinan
Rivai, dkk. (2014:106-109)



Pimpinan PT Ramayana Lestari Sentosa, Tbk. Cabang Dinoyo Malang memiliki strategi atau cara untuk dapat mempengaruhi perilaku karyawan bagian toko agar mau bekerja sama dan bekerja secara produktif untuk mencapai tujuan perusahaan.
Stabilitas emosi
Kartono (2014:47)
1. Pemimpin tidak mudah marah
2. Pemimpin tidak mudah tersinggung
3. Pemimpin mampu memaafkan kesalahan yang tidak terlalu fatal
Likert
Objektif
1. Pemimpin berlaku adil pada setiap karyawan
2. Pemimpin berlaku sesuai dengan bukti nyata
Keterampilan komunikasi

1. Pemimpin mudah menangkap maksud orang lain
2. Pemimpin mahir dalam berbicara (mudah dimengerti)
3. Pemimpin mampu menyatukan berbagai opini
Kemampuan mengajar
1. Pemimpin mampu memberikan arahan yang mudah dimengerti
2. pemimpin memberikan contoh yang baik
3.pemimpin membagikan ilmu yang dimiliki kepada karyawan

Budaya Kerja
Ndraha (2012:83)
Sikap terhadap pekerjaan dan perilaku ketika bekerja yang ditunjukkan oleh karyawan bagian toko PT Ramayana Lestari Sentosa, Tbk. Cabang Dinoyo Malang dalam bekerja sehari-hari.
Anggapan dasar tentang kerja
Ndraha (2012:83)
1. Memahami pekerjaan yang diberikan
2. Memahami kebiasaan di tempat kerja
3. Memahami SOP dalam bekerja
Likert
Sikap terhadap pekerjaan
1. Menerima sepenuhnya terhadap pekerjaan yang diberikan
2. Puas terhadap pekerjaan yang diberikan
Perilaku ketika bekerja

1. Bertanggung jawab dalam bekerja
2. Berkomitmen dalam bekerja
3. Memberikan bantuan kepada karyawan lain ketika pekerjaan telah selesai
Lingkungan kerja
1. Lingkungan kerja yang nyaman
2. Hubungan antar karyawan yang harmonis
3. Peralatan yang menunjang pekerjaan memadai
Disiplin Kerja
Sutrisno (2012:89)
Sikap yang digunakan oleh PT Ramayana Lestari Sentosa, Tbk. Cabang Dinoyo Malang untuk melihat kesadaran dan ketersediaan karyawan bagian toko untuk menaati semua peraturan, ketentuan serta norma-norma yang berlaku pada perusahaan.
Balas jasa
Sutrisno (2012:89)
1. Gaji yang diterima telah sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan
2. Pemberian apresiasi atas prestasi
3. gaji diberikan tepat waktu
Likert
Teladan pemimpin
1. Pemimpin memberikan contoh pada karyawan
2. Pemimpin selalu hadir tepat waktu
3. Pemimpin selalu hadir di tempat kerja
Ketegasan pemimpin
1. Pemimpin tegas dalam menanggapi pelanggaran
2. Pemimpin tegas dalam memberikan teguran
3. pemimpin memberikan sanksi sesuai pelanggaran
Pengawasan
1. Pimpinan melakukan pengawasan terhadap kondisi di tempat kerja
2. Pimpinan menjalankan tata tertib pada karyawan
Kinerja             
Hasibuan (2012:94)
Hasil kerja yang mampu dicapai oleh karyawan bagian toko PT Ramayana Lestari Sentosa, Tbk. Cabang Dinoyo Malang dalam melaksanakan penjualan langsung terhadap customer atau melakukan pelayanan sesuai dengan tanggung jawabnya.
Kualitas dan kuantitas kerja
Hasibuan (2012:94)

1. Kualitas pekerjaan yang dilakukan telah sesuai dengan instruksi kerja
2. melaksanakan pekerjaan dengan teliti
3. Pekerjaan dapat diselesaikan sesuai dengan  target yang ditetapkan
Likert
Kerjasama
1. Kerja sama yang baik dengan rekan kerja maupun tim
2. Mampu bekerjasama dengan semua tata tertib perusahaan
Tanggung jawab
1. Bertanggung jawab atas jabatan yang diberikan perusahaan
2. Bertanggung jawab terhadap pekerjaan yang telah dikerjakan
Sumber : Diolah Penulis, 2018


Skala yang dipakai dalam penelitian ini adalah Skala Likert dengan menggunakan ukuran data interval, dimana menurut Sugiyono (2015:93) Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dengan Skala Likert, maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrument yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan. Ketika menanggapi pertanyaan dalam skala likert, responden menentukan tingkat persetujuan mereka terhadap suatu pernyataan dengan memilih salah satu dari pilihan yang tersedia. Untuk keperluan analisis kuantitatif, maka jawaban itu dapat diberi skor, misalnya :
Tabel 3.2
Peringkat Skala Likert
No
Jawaban
Notasi
Nilai Skor
1
Sangat Setuju
SS
5
2
Setuju
S
4
3
Netral
N
3
4
Tidak Setuju
TS
2
5
Sangat Tidak Setuju
STS
1

Sumber : Sugiono (2015)

3.6         Metode Pengumpulan Data
Adapun metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini diantaranya adalah :
3.6.1    Observasi
Observasi merupakan metode pengumpulan data yang mempunyai cirri yang spesifik bila dibandingkan dengan metode yang lain yaitu wawancara dan kuesioner. Karena observasi tidak selalu dengan obyek manusia tetapi juga obyek-obyek alam yang lain. Menurut Sugiono (2015:145)  observasi  merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis  dan  psikologis.  Dua  diantara  yang  terpenting  adalah  proses-proses pengamatan  dan  ingatan. Observasi dalam penelitian ini dilakukan dengan cara peneliti mengamati secara langsung kegiatan-kegiatan kinerja karyawan di PT Ramayana Lestari Sentosa, Tbk. Cabang Dinoyo Malang.
3.6.2    Wawancara
Wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikontruksikan makna dalam suatu topik tertentu, Sugiyono (2015:231). Dalam hal ini peneliti melakukan wawancara terhadap karyawan PT Ramayana Lestari Sentosa, Tbk. Cabang Dinoyo Malang pada bagian SDM.
3.6.3    Dokumentasi
Menurut Sugiyono (2015:240) Dokumen adalah catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah  kehidupan, ceritera, biografi, peraturan, kebijakan. Dokumen yang berbentuk gambar misalnya foto, gambar hidup, sketsa dan lain-lain. Dokumen yang berbentuk karya misalnya karya seni, yang dapat berupa gambar, patung, film  dan lain-lain.
Teknik pengumpulan data yang dilakukan penulis dengan cara melihat, membaca dan menyalin dokumen–dokumen atau catatan yang ada di PT Ramayana Lestari Sentosa, Tbk. Cabang Dinoyo Malang yang berkaitan dengan judul dan pembahasan penelitian.
3.6.4    Kuesioner
Menurut Sugiyono (2015:142) kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan  cara  memberi  seperangkat  pertanyaan  atau  pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Kuesioner juga cocok digunakan jika jumlah responden cukup besar dan tersebar di wilayah yang luas. Kuesioner dapat berupa pertanyaan atau pernyataan tertutup atau terbuka, dapat diberikan kepada responden secara langsung atau dikirim melalui pos, atau internet. Kuesioner diberikan kepada 78 karyawan bagian toko di PT Ramayana Lestari Sentosa, Tbk. Cabang Dinoyo Malang.

3.7         Uji Instrumen Penelitian
3.7.1    Uji Validitas
            Sebelum instrumen penelitian digunakan untuk mengumpulkan data perlu dilakukan pengujian validitas. Uji validitas dilakukan untuk memastikan seberapa baik suatu instrument digunakan untuk mengukur konsep yang seharusnya diukur. Hal ini digunakan untuk mendapatkan data yang valid dari instrumen yang valid. Menurut Sugiyono (2011:121) hasil penelitian yang valid adalah bila terdapat kesamaan antara data yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya terjadi pada objek yang diteliti.

Dimana :
   n   =   Jumlah Sampel
x   =   Jumlah Jawaban Variabel Bebas (Kompensasi, Budaya
          Organisasi, dan Lingkungan Kerja)
   y   =   Jumlah Jawaban Variabel Terikat (Kinerja)
3.7.2    Uji Reliabilitas
Menurut Sugiyono (2015:121) hasil penelitian yang reliabel, bila terdapat kesamaan data dalam waktu yang berbeda. Instrumen yang reliabel adalah instrumen yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur obyek yang sama, akan menghasilkan data yang sama. Analisis yang digunakan adalah analisis korelasi matrik. Dengan rumus :
Dimana :
r    =   Koefisien korelasi
n   =   Jumlah sampel / responden
x = Jumlah jawaban variabel bebas (Kompensasi, Budaya Organisasi, dan Lingkungan Kerja)
y   =   Jumlah jawaban variabel terikat (Kinerja)
3.8         Teknik Analisa Data dan Uji Hipotesis
3.8.1    Teknik Analisa Data
Teknik analisis data dimaksudkan untuk mencari jawaban atas pertanyaan penelitian atau tentang permasalahan yang telah dirumuskan sebelumnya. Menurut Bogdan yang dikutip oleh Sugiyono (2011:244), analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistimatis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain, sehingga dapat mudah dipahami, dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain. Analisis data dilakukan dengan mengorganisasikan data, menjabarkannya ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan yang dapat diceritakan kepada orang lain. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif, dan analisis statistik dengan alat bantu software microsoft excel dan SPSS. Adapun langkah-langkah analisis yang digunakan sebagai berikut :
a.       Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik dimaksudkan untuk mengetahui apakah multiple regression atau model regresi berganda layak dipakai atas variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian.
1)        Uji Normalitas
Menurut Ghozali (2011:160) uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi, variabel terikat (Y) dan variabel bebas (X) mempunyai distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik memiliki distribusi data normal atau mendekati normal. Untuk mengetahui apakah distribusi data normal atau tidak, dilakukan dengan melihat normal probability plot yang membandingkan distribusi kumulatif dari distribusi normal. Ghozali (2011:161) mengatakan bahwa “jika distribusi data adalah normal, maka garis yang menggambarkan data sesungguhnya akan mengikuti garis diagonalnya”.
2)        Uji Multikolinieritas
Menurut Ghozali (2011:105) Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antara variabel bebas (X). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel bebas. Jika variabel bebas saling berkorelasi maka variabel ini tidak ortogonal. Salah satu metode untuk mendeteksi adanya multikolonieritas dapat dilakukan dengan melihat angka variance inflation factor (VIF), jika nilai VIF < 10, maka tidak terjadi multikolinieritas.
3)        Uji Heteroskedastisitas
 Menurut Ghozali (2011:139) uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi berganda terjadi ketidaksamaan lain. Model regresi yang baik adalah yang homokedastisitas atau tidak terjadi heterokedastisitas. Untuk mengetahui ada tidaknya heterokedastisitas pada model regresi menurut Ghozali (2011:139) adalah “melihat grafik plot antara nilai prediksi variabel terikat ZPRED dengan residualnya SRESID”. Jika terdapat pola tertentu, seperti titik yang ada membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit atau membentuk bentuk yang lain), maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas. Jika tidak ada pola yang jelas serta titik menyebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas
b.        Analisis Regresi Linier Berganda
Analisis regresi berganda adalah suatu alat analisis peramalan nilai pengaruh dua variabel bebas atau lebih (X), terhadap variabel terikat (Y) untuk membuktikan ada atau tidaknya hubungan kausal antara dua variabel bebas atau lebih dengan suatu variabel terikat, Ghozali (2011:152). Analisis ini menentukan persamaan regresi yaitu dengan menentukan basarnya nilai konstanta dan koefisiensinya. Model persamaan regresi berganda adalah:
Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + el
Keterangan :
Y  : Variabel Terikat, yaitu Kinerja
B   : Koefisien regresi yang digunakan untuk menujukkan                                   angka peningkatan atau penurunan variabel. Bila b (+)                                       maka naik, dan bila b (-) maka terjadi penurunan.
X1  : Variabel Bebas, yaitu Kepemimpinan
X2  : Variabel Bebas, yaitu Budaya Kerja
X3              : Variabel Bebas, yaitu Disiplin Kerja
a     : Bilangan konstan
ei   : Variabel gangguan
3.8.2        Uji Hipotesis
Untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini digunakan alat bantu SPSS. adapun langkah-langkah uji hipotesis yang digunakan sebagai berikut :
a.         Uji t (Uji Parsial)
Menurut Ghozali (2011:178) Uji t ini digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y) secara parsial atau sendiri-sendiri. Uji t dilakukan dengan membandingkan nilai t Hitung dan t Tabel atau melihat nilai signifikasinya. Apabila t Hitung > t Tabel dan nilai signifikasinya < α 0,05, maka dikatakan pengaruhnya signifikan, dan apabila t Hitung < t Tabel dan nilai signifikasinya > α 0,05, maka dikatakan pengaruhnya tidak signifikan.
Menurut Sugiyono (2011:184) uji t dapat dicari dengan rumus:
Dimana :
t  :   t hitung yang selanjutnya dikonsultasikan dengan t tabel
r  :   korelasi parsial yang ditemukan
n :   sampel
Kesimpulan untuk menolak atau menerima H0 tergantung dari bentuk perumusan hipotesisnya, yaitu sebagai berikut :
Gambar 3.1
Kurva Pengambilan Keputusan Uji t-Statistik
H1 ditolak
H1 ditolak
H1 diterima
- T tabel
 T tabel
 





b.        Uji F (Uji Simultan)
Menurut Ghozali (2011:177) uji statistik F digunakan untuk mengetahui apakah semua variabel bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh bersama-sama terhadap variabel terikat. Uji ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh semua variabel bebas yang terdapat di dalam model secara bersama–sama (simultan) terhadap variabel terikat. Oleh karena itu, untuk membuktikan kebenaran hipotesis digunakan Uji F, yaitu untuk mengetahui sejauh mana variabel – variabel bebas yang digunakan mempu menjelaskan variabel terikat. Apabila dari perhitungan Fhitung > Ftabel maka Ho tidak diterima, sehingga dapat dikatakan bahwa variabel bebas (X)  dari model  regresi dapat menerangkan variabel secara serentak. Sebaliknya Fhitung < Ftabel maka Ho diterima. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa variabel bebas (X) dari model regresi linier berganda tak mampu menjelaskan variabel terikat (Y).
F hitung =              R²/ k
                                     (1 - R²) / (n – k -1)
 



Dimana :
F : pengujian secara simultan
n : jumlah responden (sampel)
k : banyak variabel babas
R : koefisien korelasi berganda
Data yang sudah ada kemudian diolah dengan  alat bantu SPSS dan kemudian dianalisis secara deskriptif serta pembuktian hipotesis.                
Gambar 3.2
Kurva Pengambilan Keputusan Uji F-Statistik
H1 ditolak
H1 diterima
 



H1       : bi = 0 berarti variabel bebas (X) secara simultan tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen (Y).
H2       : bi ≠ 0 berarti variabel (X)  secara simultan berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen (Y).
c.         Uji Koefisien Determinasi (Uji R2)
Menurut Ghozali (2011:177) dalam Uji Regresi linier berganda ini dianalisis pula besarnya koefisien determinasi (R2). Keseluruhan R2 digunakan untuk mengukur ketepatan yang paling baik dan analisis Linier berganda. Jika R2 yang diperoleh mendekati 1 (satu) maka dapat dikatakan sekamin kuat model tersebut dapat menerangkan variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y).Sebaliknya jika R2 mendekati 0 (nol) maka semakin lemah variabel-variabel bebas (X) menerangkan variabel terikat (Y). Selain melakukan pembuktian dengan uji F dan uji T, perlu juga dicari besarnya koefisien determinasi (R2) parsialnya untuk masing-masing variabel bebas.
Menghitung R2 digunakan untuk mengetahui sejauh mana sumbangan dari masing-masing variabel bebas (X), jika variabel lainnya konstan terhadap variabel terikat (Y). Semakin besar nilai R2 maka semakin besar variasi sumbangannya terhadap variabel terikat (Y).


DAFTAR PUSTAKA
Hasibuan, Malayu. 2012. Manajemen Sumber Daya Manusia. Edisi Revisi, Bumi Aksara, Jakarta.
Kartono, Kartini. 2014. Pemimpin dan Kepemimpinan – ApakahKepemimpinan Abnormal Itu?. Rajawali Pers. Jakarta.
Rachmawati, Ike Kusdyah. Manajemen Sumber Daya Manusia. ANDI. Yogyakarta.